Keputusan No. 1

17 Dec 2010

pci1

Menempuh PENDIDIKAN, meninggalkan KAMPUNG HALAMAN dilatih menjadi Pribadi KREATIF

Dr. Ir. Ciputra lahir di kota kecil Parigi, Sulawesi Tengah pada tanggal 24 Agustus 1931 dengan nama Tjie Tjin Hoan, ia anak ke 3 dari pasangan Tjie Sim Poe dan Lie Eng Nio. Keluarga ini memiliki rumah yang sekaligus toko kelontong di sebuah kota yang bernama Bumbulan, sekitar 150 km dari Gorontalo, Sulawesi Tengah. Ketika berusia 12 tahun ia kehilangan ayahnya yang meninggal di tahanan tentara pendudukan Jepang karena tuduhan palsu dianggap mata-mata Belanda.

Kepahitan masa kecil telah menimbulkan tekad dan keputusan penting yaitu memiliki cita-cita bersekolah di Pulau Jawa demi hari depan yang lebih baik, bebas dari kemiskinan dan kemelaratan. Akhirnya Dr. Ir. Ciputra kecil kembali ke bangku sekolah walau terlambat. Ia terlambat karena negara kita masih dalam suasana peperangan dengan tentara Belanda maupun Jepang. Ia masuk kelas 3 SD di desa Bumbulan walau usianya sudah 12 tahun atau terlambat hampir 4 tahun. Ketika usianya 16 tahun lulus dari SD kemudian melanjutkan SMP di Gorontalo dan jenjang SMA di Menado setelah itu memasuki ITB jurusan arsitektur di Bandung. Terlambat tapi bukan berarti terhambat bukan..?

Masa Dr. Ir. Ciputra menempuh pendidikan bukanlah sebuah masa yang penuh hura-hura seorang remaja masa kini. Ia harus hidup dengan penuh keprihatinan. Pada masa di SD ia biasa berjalan kaki ke sekolah yang jaraknya 7 km. Pulang pergi menjadi 14 km. Pagi-pagi benar, sebelum berangkat ke sekolah ia harus mengatur makanan bagi semua ternaknya. Ia mengalami banyak kesulitan dan hambatan namun itu bukan menjadi alasan untuk tidak berprestasi.

Mengenang masa pendidikan Sekolah Dasar di Bumbulan yang penuh dengan perjuangan, Dr. Ir. Ciputra berkata : Setiap hari saya harus bangun pagi jam 5.00 berlari ke sekolah dan baru kembali tiba di rumah jam 2.00 siang dengan perut lapar … Ia juga pernah berkata: Saya hanya memiliki pakaian yang sangat sedikit dan tidak memiliki sepatu ataupun sandal. Pada masa itu, jika hujan turun, maka bertambahlah penderitaan Dr. Ir. Ciputra kecil karena dengan bertelanjang dada ia harus pergi ke sekolah dengan berjalan dibawah tudungan daun pisang. Dan agar bajunya tidak basah, maka ia harus melepas dan membungkusnya dengan daun woku, semacam daun palem yang besar. Sehingga baju tersebut tetap kering saat tiba disekolah.

Di hari Minggu Dr. Ir. Ciputra remaja menggunakan waktunya untuk berburu babi dan rusa dengan membawa 17 ekor anjing. Tidak heran otot-otot kakinya menjadi sangat terlatih dan kemudian ketika di bangku SMA ia terpilih menjadi atlit Sulawesi Utara untuk lomba lari 800 meter dan 1500 meter di PON II di Jakarta. Itulah masa-masa penuh perjuangan bagi Dr. Ir. Ciputra yang saat ini kalau ia kenang kembali menjadi sebuah kenangan indah tentang bagaimana otot-otot mentalnya menjadi kuat karena berbagai tempaan masa lalu.

Keseluruhan pendidikan masa remaja Dr. Ir. Ciputra memang merupakan gabungan dari pendidikan yang akademis dan juga non akademis, di dalam kelas dan juga di luar kelas. Inilah yang dapat disebut sebagai sekolah kehidupan yang membuat seseorang tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan utuh. Oleh karena itu tidak heran bila saat ini ia berpendapat bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membangun manusia seutuhnya dan beberapa cirinya adalah membangun moral, mendorong kreativitas dan mendidik karakter-karakter mandiri siswa-siswinya.

3 PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK

    1. Belajarlah sungguh-sungguh dan belajarlah menjadi kreatif. Kreativitas adalah bekal yang mahal untuk masa depan
    2. Jangan takut terhadap kesulitan dan hambatan. Kerapa itu semua menjadi guru dan pelatih kehidupan yang handal
    3. Jangan putus asa kalau Anda merasa miskin atau tidak mampu teruslah memiliki cita-cita dan berjuang. Selalu ada jalan untuk orang yang bersemangat


    TAGS


    -

    Author

    Follow Me