Membangun Industri Peralatan dan Mesin Pertanian

12 Apr 2014

Kebutuhan akan peralatan dan mesin pertanian di tanah air sangatlah besar. Hal itu tidakterlepas dari fakta bahwa Indonesia sebagai negara agraris yang memiliki lahan pertanian yang luas dengan 60-70% penduduknya bekerja di bidang pertanian.

Industri Perlatan dan Mesin Pertanian

Industri Perlatan dan Mesin Pertanian

Selain itu, kondisi iklim dan bentang alam Indonesia serta sumber daya manusianya sangat mendukung kegiatan usaha pertanian.Karena itu, tidak mengherankan apabila Indonesia memiliki potensi sumber daya alam (SDA) pertanian yang sangat besar, baik di sub sektor pertanian pangan, sub sektor pertanianperkebunan, maupun di sub sektor pertanian hortikultura. Semua sub sektor pertanian itusangat potensial untuk dikembangkan untuk menghasilkan berbagai produk pertanian unggulan.

Di era pertanian modern dewasa ini, pengembangan sektor pertanian di tanah air sudah tidak bisa dipisahkan lagi dari input pertanian yang disebut dengan teknologi, baik teknologi di sektor on farm maupun di sektor off farm. Penerapan teknologi di sektor on farm dapat meningkatkan kuantitas maupun kualitas produksi hasil pertanian.

Sedangkan penerapan teknologi di sektor off farm yang dimulai dari kegiatan pasca panen seperti teknologi penyimpanan, pergudangan hingga teknologi pengolahan, selain dapat menjaga dan meningkatkan kualitas produk hasil pertanian juga dapat meningkatkan nilai tambah dari produk hasil pertanian itu sendiri.

Pengembangan industri alat dan mesin pertanian (alsintan) di dalam negeri merupakan upaya dalam menunjang kegiatan mekanisasi pertanian untuk mendukung pembangunan pertanian Indonesia, terutama untuk Pengembangan Industri guna tercapainya ketahanan pangan nasional dan Swasembada Pangan tahun 2014.

Industri Perlatan dan Mesin Pertanian

Industri Perlatan dan Mesin Pertanian

Industri alsintan di dalam negeri sudah cukup berkembang dengan baik selama ini, baik industri alsintan skala besar, menengah dan kecil termasuk industri perbengkelan alsintanyang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.Kehadiran industri tersebut telah menjadi kekuatan tersendiri bagi industri alsintan didalam negeri.

Namun demikian, pengembangan industri alsintan di tanah air masih membutuhkan dukungan political will dari semua pihak, khususnya pemerintah dalam sejumlah aspek seperti pembangunan infrastruktur jalan desa,jalan usaha tani untuk sarana produksi dan ke sentra-sentra produksi; infrastruktur irigasi, pergudangan pelabuhan, listrik (utamanya di pedesaan), telekomunikasi, angkutan sungai.Selain itu, pengembangan industri alat dan mesin pertanian di Indonesia dilakukan dengan mengikuti logika pasar yang wajar dan penciptaan iklim yang kondusif.

Hal lainnya yang perlu dilakukan adalah meningkatkan mutu produk alsintan dalam negeri dengan mempermudah tersedianya bahan baku dan energi; peningkatan porsi APBN untuk pertanian menjadi minimal 5% sebagai stimulasi pembiayaan pembangunan; dan penciptaan skim kredit khusus bagi pertanian dengan persyaratan sesuai dengan karakteristik kegiatan atau usaha pertanian yang dapat diakses oleh petani dan pelaku agribisnis.

Pemerintah juga perlu membentuk bank pertanian yang 100% ditujukan untuk membiayai sektor pertanian termasuk industri di dalamnya; menciptakan iklim untuk mempermudah kepemilikan produk alat dan mesin pertanian oleh para petani; membangun logika pasar yang wajar dengan menaikkan tarif bea masuk alat dan mesin pertanian impor dalam bentuk built up dan menurunkan tarif bea masuk bahan baku alat dan mesin pertanian impor; memperkuat kelembagaan petani dan pelaku agribisnis, dengan membangun kebersamaan diantara mereka melalui kelompok, kerjasama antar kelompok sampai pembentukan unit usaha bersama (koperasi) sebagai kelembagaan ekonomi pertanian. Lembaga tersebut ditingkatkan profesionalismenya agar memiliki akses ke bank, teknologi, informasi, pasar, dan pengembangan industri pertanian perdesaan.

Industri Mesin Pertanian

Industri Mesin Pertanian

Yang juga tidak kalah pentingnya untuk dilakukan pemerintah adalah mendorong Peraturan Menteri Perindustrian No. 11 tahun 2006 tentang pedoman teknis penggunaan produk dalam negeri ke tingkat sistem perundang-undangan yang lebih tinggi dan aplikasinya secara konsisten. Dengan demikian setiap pengadaan barang/jasa yang menggunakan dana/biaya pemerintah, wajib memaksimalkan pengunaan produk dalam negeri.

Sudah Diekspor Beberapa jenis alsintan yang digunakan para pelaku usaha tani di dalam negeri pada umumnya sudah dapat diproduksi di dalam negeri, antara lain alat dan mesin (alsin) penyiapan lahan (traktor roda 2 dan 4, seeders, planters, transplanters dan cultivator), alsin pemeliharaan tanaman (pompa irigasi, sprayer, alsin pemupuk dan alsin penanam), alsin panen dan pasca panen (reaper, harvester, dryer, tresher, husker, rice milling plant, polisher dan pemipil jagung), serta motor penggerak (motor diesel, motor bensin, motor listrik dan motor minyak tanah).

Alsintan produksi dalam negeri itu tidak hanya digunakan petani dan perusahaan agribisnis di tanah air, tetapi juga sudah diekspor ke mancanegara. Namun data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan bahwa dalam lima tahun terakhir ini Indonesia lebih sering mengalami defisit dalam perdagangan luar negeri alsintan.

Berdasarkan data BPS, pada tahun 2006 ekspor mesin pertanian Indonesia sempat mencapai US$ 416,3 juta, namun pada tahuntahun berikutnya ekspor mesin pertanian merosot tajam. Pada tahun 2007 ekspor mesin pertanian hanya tinggal US$ 31,9 juta, pada tahun 2008 menjadi US$ 34,5 juta, turun lagi pada tahun 2009 menjadi US$ 20,3 juta dan sedikit naik pada tahun 2010 menjadi US$ 22,7 juta.

Sebaliknya, impor mesin pertanian dari mancanegara, walaupun fluktuatif, namun hingga saat ini masih tetap relatif tinggi. Pada tahun 2006 impor mesin pertanian mencapai US$ 356,0 juta, kemudian turun menjadi US$ 226,6 juta pada tahun 2007, dan sedikit naik pada tahun 2008 menjadi US$ 263,5 juta.

Sebagai dampak dari krisis ekonomi global, pada tahun 2009 impor mesin pertanian Indonesia pun mengalami penurunan tajam menjadi US$ 59,3 juta. Namun pada tahun 2010 impor mesin pertanian dari mancanegara kembali melonjak menjadi US$ 300,0 juta.

Jika dilihat dari sisi neraca perdagangan mesin pertanian, dalam lima tahun terakhir ini Indonesia hanya mengalami surplus perdagangan mesin pertanian pada tahun 2006 dimana ekspornya mencapai US$ 416,3 juta sedangkan impornya sebesar US$ 356,0 juta atau terjadi surplus sebesar US$ 60,3 juta.

Selebihnya, Indonesia terus mengalami defisit perdagangan mesin pertanian. Pada tahun 2007 defisit yang dialami Indonesia mencapai US$ 194,7 juta, tahun 2008 sebesar US$ 229,0 juta, tahun 2009 sebesar US$ 39,0 juta dan tahun 2010 defisitnya kembali melonjak menjadi US$ 277,3 juta.

Kendati demikian, dicapainya surplus perdagangan mesin pertanian pada tahun 2006 menunjukkan bahwa sebetulnya Indonesia memiliki potensi yang cukup besar di sektor industri ini. Kalau pada tahun 2006 saja Indonesia bisa mencapai surplus sampai US$ 60,3 juta, seharusnya surplus serupa bisa juga dicapai pada tahun-tahun berikutnya.

Beberapa perusahaan produsen alsintan nasional yang sudah cukup mapan diantaranya PT. AGRINDO dengan produksi 60.000 unit/tahun, PT KUBOTA INDONESIA 37.500-50.000 unit/tahun, CV. KARYA HIDUP SENTOSA 30.000 unit/tahun, CV. YAMINDO 37.500 unit/tahun, PT. BAHAGIA JAYA SEJAHTERA 50.000 unit/tahun, PT. GOLDEN AGIN NUSA 40.000 unit/tahun, PT AGRO TUNAS TEKNIK 50.000 unit/tahun, PT. KERTA LAKSANA 50.000 unit/tahun, PT. AGRINDO MAJU LESTARI 40.000 unit/tahun.Perusahaan produsen alsintan itu telah melakukan ekspor berbagai produk alsintannya ke beberapa negara diantaranya ke Singapura, Thailand, UAE, Iran, Mexico, Malaysia, BruneiDarussalam dan lain-lain.

Sumber : Majalah KINA


TAGS industri pertanian industri pertanian


-

Author

Follow Me