Industri kerajinan sutera di Indoensia sudah berkembang cukup lama sejalan dengan berkembangnya usaha pemeliharaan ulat sutera, pemintalan benang sutera dan industri kain tenun sutera. Daerah penyebaran pengembangan ulat sutera dan industri kain tenun sutera pun di tanah air kini sudah cukup luas dan beragam. Pulau Sulawesi, khususnya Sulawesi bagian Selatan dikenal sebagai daerah di tanah air yang menjadi salah satu pelopor atau pionir pengembangan sutera. Sampai saat ini pun Sulawesi Selatan menjadi salah satu sentra produksi kain sutera di Indonesia. Karena itu, benang atau pun kain sutera produksi daerah ini sudah cukup lama dikenal kalangan masyarakata di tanah air.

200810105

Berkembangnya industri kerajinan kain sutera di wilayah Sulawesi Selatan ternyata membawa dampak ke wilayah-wulayah di sekitarnya di Sulawesi. Industri kerajinan sutera pun kemudian berkembang di wilayah Sulawesi Tengah, khususnya di kota Palu dan Donggala. Kini, di kota-kota besar di Sulawesi Tengah sudah banyak bermunculan industri kerajinan kain tenun sutera.

Salah satu pengusaha kerajinan kain tenun sutera yang kini sudah cukup dikenal di kota Palu adalah Slamet Efendi (35). Walaupun usianya masih relatif muda, namun dengan bekal keterampilan yang diwariskan orang tuanya dan bekal semangat untuk terus maju, Slamet Efendi berhasil membesarkan usahanya hingga kini mampu mempekerjakan lebih dari 50 orang karyawan.

Slamet Efendi mulai menggeluti kerajinan tenun pada tahun 1999 dengan mengambil alih usaha tenun sutera yang dirintis ayahnya yang kini sudah almarhum. Pria berdarah Kediri, Jawa Timur yang lahir di Palu itu tumbuh dan besar dalam lingkungan keluarga perajin kain tenun. Bapaknya semasa masih hidup merupakan seorang buruh pada industri tenun milik seorang pengusaha di Donggala, Sulteng. Setelah tidak bekerja lagi di industri tenun di Donggala, keluarga Slamet kemudian hijrah ke Palu dan mendirikan usaha tenun sendiri dengan bermodalkan satu unit alat tenun tradisional. Beruntung, pemerintah kota Palu melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangannya kemudian memberikan bantuan dua unit alat tenun bukan mesin (ATBM) kepada keluarga tersebut.

2008101012

Di luar dugaan bantuan dua unit ATBM itu seolah menjadi pemicu bagi terus berkembangnya usaha kerajinan kain tenun sutera milik keluarga Slamet. Usaha kerajinan tenun sutera yang diberi nama ‘Indo Sutera’ itu pun terus berkembang, volume produksi pun terus meningkat, demikian juga dengan jumlah karyawan.
Saat ini, Indo Sutera yang dinakodai Slamet telah memiliki 40 unit ATBM dan 10 unit alat tenun tradisional, sedangkan jumlah karyawan yang tadinya hanya dua orang kini sudah membengkak menjadi 50 orang. Slamet mengaku pertumbuhan usahanya itu tidak terlepas dari duikungan pemda setempat dalam hal ini Pemkot Palu yang sangat serius dalam menyokong industri tenun sutera di wilayahnya.

Salah satu cara yang ditempuh Pemprov Sulteng dan Pemkot Palu dalam mendorong pertumbuan industri tenun sutera di Palu adalah mewajibkan aparat atau pejabat pemerintah daerah untuk memakai kain tenun sutera sehingga konsumsi kain tenun sutera di daerah tersebut terus meningkat. Kain tenun sutera selain dipakai untuk seragam karyawan pemda dan perusahaan BUMN/BUMD, juga banyak digunakan sebagai pakaian resmi masyarakat untuk resepsi atau acara lainnya. Untuk pakaian seragam di kantor pemerintah atau perusahaan BUMN/BUMD, kain tenun biasanya menggunakan motif sesuai dengan logo instansi atau BUMN/BUMD yang bersangkutan.

2008101022

Kain tenun sutera khususnya kain tenun songket biasanya dipakai untuk pakaian adat. Masayarakat di Sulteng, terutama di kota Palu masih memegang adat dengan kuat sehingga permintaan terhadap berbagai jenis produk kerajinan yang berkiatan denngan kegiatan adat seperti kain tenun songket masih cukup tinggi.

Gubernur Sulteng dan Walikota Palu adalah dua tokoh pemerintah daerah di Sulteng yang berada di posisi paling depan dalam mendorong industri kerajinan tenun sutera di Sulteng. Pemerintah Daerah juga memberikan berbagai bantuan kepada para perajian berupa mesin tenun, bahan baku benang sutera, pelatihan kepada perajin dan bahkan memberikan fasilitasi untuk melakukan promosi. Pemda sering kali mengikutsertaan para perajin dalam berbagai pameran, tidak hanya pameran di wilayah Sulteng saja tetapi juga berbagai pameran di berbagai kota besar di Indonesia seperti pameran ICRA di Jakarta. Semua biaya pameran ditanggung oleh Pemda mulai dari ongkos pesawat, biaya akomodasi selama pameran dan biaya pengiriman barang.

Slamet mengaku sangat berterima kasih kepada Pemprov Sulteng dan Pemkot Palu karena telah berupaya all out mengembangkan industri kerajinan tenun sutera di wilayahnya. “Kalau Pemda tidak mendorong habis-habisan usaha kerajinan kain tenun sutera ini, mana ada warga Sulteng yang mau membeli kain tenun sutera. Karena harga kain tenun sutera tradisional ini cukup mahal mengingat dibuatnya dengan alat tenun tradisional sehingga untuk membuat satu helai kain saja dibutuhkan waktu selama satu bulan,” kata Slamet.

2008101031

Selain memproduksi kain sutera dengan menggunakan alattenun tradisional, Slamet juga memproduksi kain tenun sutera dengan menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Dengan alat tenun tersebut lama waktu pembuatan kain bisa dipersingkat menjadi tiga hari untuk setiap lembar kain. Dengan ATBM kini industri kerajinan kain tenun sutera ‘Indo Sutera’ milik Slamet mampu memproduksi 80 lembar kain setiap bulannya. Kain tenun buatan Slamet biasanya dipasarkan secara rutin di tiga toko kain di kota Palu. Pemilik toko biasanya memberikan uang muka untuk pembuatan kain karena Slamet sendiri mengalami kekurangan modal kerja. Kadang-kadang melalui tokotoko itu Slamet juga mendapatkan pesanan pembuatan kain tenun dari para pembeli di kota besar lainnya seperti dari Jakarta.

Kain tenun sutera yang biasanya dibuat oleh Slamet diantaranya adalah kain songket dan kain sarung tenun Bomba Donggala. Kain tenun songket biasanya dibuat dengan menggunakan alat tenun tradisional, sedangkan kain tenun sarung Bomba Donggala dibuat dengan menggunakan ATBM.

Untuk produk kerajinan kain tenunnya, Slamet bisanya menjual dengan harga yang bervariasi.Umumnya harga kain tenun songkat dari sutera dijual dengan harga yang relatif lebih mahal ketimbang kain tenun sraung Bomba Donggala. Sebab, kain tenun songket dari sutera dibuat dengan menggunakan alat tenun tradisional sehingga proses pembuatannya memakan waktu yang cukup lama. Sementara kain tenun sarung Bomba Donggala dibuat dengan ATBM sehingga proses pembuatannya jauh lebih cepat ketimbang lama pembuatan kain songket.

Untuk kain tenun sarung Bomba Donggala, Slamet menjualnya mulai dari Rp 200.000 per lembar kain (untuk kain sarung Bomba Donggal biasa) hingga Rp 300.000 per lembar kain (untuk kaiin sarung Bomba Donggala yang dikombinasi dengan benang emas. Sementara itu, untuk kain tenun songket, Slamet menjualnya dengan harga paling tinggi Rp 600.000 per lembar, yaitu untuk kain tenun songket Gedokan Donggala.

Sutera Donggala
Jl. Mangga No. 19 C , Palu, Sulawesi Tengah
Telp. [0451] 451998

Sumber : Majalah Kina Edisi 3 2008 Kementrian Perindustrian RI


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Berbagi :
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • blogmarks
  • De.lirio.us
  • LinkedIn
  • Technorati
  • TwitThis
  • Yahoo! Buzz
  • YahooMyWeb
  • Furl
  • Live
  • MyShare
  • MySpace
  • Ping.fm
  • Print this article!
  • Socialogs
  • E-mail this story to a friend!
  • StumbleUpon
  • Tumblr